Kurikulum

Latar Belakang
Penyusunan kurikulum berbasis KKNI adalah kegiatan nasional yang didasarkan pada Kepmendiknas No. 232/U/2000 dan Kepmendiknas No. 045/U/2002. Realitas rendahnyanya mutu pendidikan di Indonesia, jelas merupakan tantangan yang cukup berat bagi semua pihak yang terkait dengan pengembangan pendidikan. Sebab jika tidak segera dibenahi, maka di era persaingan bebas SDM kita akan selalu tertinggal. Adanya globalisasi justru mempermudah masuknya para tenaga ahli/tenaga asing ke Indonesia untuk bersaing dengan tenaga kerja Indonesia dalam mendapatkan peluang kerja.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara pencapaian dan penilaiannya. Kurikulum berbasis kompetensi diharapkan akan memberikan perbaikan kualitas SDM yang signifikan. Kurikulum ini nantinya akan memberikan peluang dan kewenangan kepada institusi pendidikan untuk lebih otonom dalam mengembangkan dan mengoperasionalisasikan pembelajaran sesuai dengan potensi yang ada di daerah atau institusi masing-masing. Dengan demikian luaran yang dihasilkan diharapkan mempunyai keterampilan dan keahlian sehingga dapat memenuhi kebutuhan di industri (link and match) sesuai dengan persyaratan kompetensi yang diberlakukan secara internasional atau menciptakan lapangan kerja mandiri di masyarakat.
Terkait dengan itu kita perlu berfikir dan berusaha mengubah paradigma pembelajaran lama ke paradigma baru, yaitu pertama paradigma yang menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran (Student Centered Learning). Bahwa mahasiswa adalah individu yang unik dengan kecerdasan yang beragam. Dengan demikian pengajarnya diharapkan menguasai strategi untuk pembelajaran mahasiswa yang berkualitas di kelas. Kedua adalah KBK perlu dilengkapi dengan infrastruktur, fasilitas, dan buku-buku pelajaran yang memuat tentang kompetensi dasar dan dapat menjabarkan bagaimana kurikulum baru dapat diaplikasikan dalam aktifitas pembelajaran serta sistem penilaian terhadap setiap kompetensi yang ingin dicapai pada setiap materi pelajaran. Ketiga, pengajar hanya sebagai fasilitator, para mahasiswa yang di didik harus diberi kesempatan untuk berfikir dan belajar sesuai kapabilitasnya. Untuk itu posisi pengajar sebagai satu-satunya sumber belajar di kelas sudah harus ditinggalkan. Hal ini dikarenakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian cepattidak akan mampu diakomodasikan oleh para pengajar. Dengan begitu mahasiswa dapat diberdayakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dari lingkungan dimana ia berada dengan memberinya kemampuan untuk menguasai teknik membelajarkan diri secara independen.
Seiring dengan itu penerapan KBK mutlak memerlukan perubahan pada sektor lain. Salah satunya adalah peningkatan kualitas dan kompetensi serta dedikasi tenaga pengajarnya. Oleh karena itu kedepan, kebijakan disektor pendidikan utamanya yang berkaitan dengan hal yang dapat memicu peningkatan kualitas dan dedikasi seperti kesejahteraan para pendidik perlu di prioritaskan.

Dan terakhir barangkali perlu dicamkan bahwa kurikulum model apapun yang coba diterapkan, tidak akan memberi hasil yang optimal jika pelaksananya kurang paham. Dengan demikian usaha untuk memberdayakan pengajar agar mampu membelajarkan mahasiswa dengan paradigma baru bersamaan dengan diberlakukannya KBK nanti, adalah kunci sukses bagi peningkatan kualitas pendidikan, dalam arti yang sesungguhnya.